Jumat, 30 Desember 2011

Aku tetap mununggu


MY POEM

Aku tetap mununggu


Gunung telah beruban
Api telah berabu
Aku tetap menunggu

Langit menjadi gelap
Gelap langit menjadi terang
Aku tetap menunggu

Tulang raga sudah berkeping
Jiwa sudah terurai
Aku tetap menunggu

Aku mengalir  bersama air
Menghembus bersama angin
Mendaki langit ke tujuh bersama para peri

Wahai Qowwam atas Ruh dan Jasad
Aku tetap setia
Dan aku tetap menunggu

Lembah inspirasi,24.09.11
By Lintang Kelana
Smtr I / KPI / DAKWAH

Sunan Ampel


Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnay ia di kenal dengan nama Raden Rahmad. Ia Lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri di identikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim.Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya ( Daerah Wonokromo ).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau jawa pada tahun 1443 M bersama Sayyid Ali Murtadlo,sang adik. Tahun 1440 M sebelum ke jawa,mereka singgah dulu di Palembang. Setalah tiga tahun di Palembang kemudian ia melabuh di daerah Gresik. Di lanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya,seorang putri campa bernama Dwarawati,yang di persunting salah seorang Raja Majapahit yang beragama hindu yang bergelar Sri Kerta Wijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia di karuniai bebrapa putera dan puteri. Di antaranya yang menjadi penerusnya adalah sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika kesulatanan Demak ( 25 KM arah selatan Kota Kudus ) hendak di dirikan,Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Fattah,putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit,untuk menjadi sultan Demak tahun 1475 Masehi.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang di hadiahkan Raja Majapahit,ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya.Pada pertengahan abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara.Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Fattah. Para santri tersebut kemudian di sebar untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih Madzab Hanafi. Namun,para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “ Mo Limo “  ( Moh Main, Moh Ngombe, Moh Maling, Moh Madat, Moh Madon ). Yakni seruan untuk “ tidak berjudi, tidak minum minuman keras,tidak mencuri,tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina “.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan di makamkan di sebelah barat Masjid Ampel,Surabaya.

By Lintang Kelana. Smtr 1 / KPI / DAKWAH

Rabu, 14 Desember 2011

Sejarah Hidup Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.
Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).
Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.
Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).
Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu
Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”
Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”
Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah6/193-194).
Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.
Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).
Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).
Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).
Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya
Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,“Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).
Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.
Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala19/328).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).
Polemik Kejiwaan Imam Ghazali
Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.
Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitabMahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.
Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).
Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.
Masa Akhir Kehidupannya
Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”
Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah6/201).
***
Sumber: Majalah As Sunnah
Penyusun: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

Mencecap Manisnya Iman Dengan Cinta


ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dari Anas bin Malik z beliau berkata, Rasulullah ` bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada padanya, maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah;  seorang yang tidak mau kembali kedalam kekufuran, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam  api neraka”.
[H.R. Al-Bukhari dan Muslim]
Keimanan adalah penentu yang membedakan derajat dan tingkatan keislaman seseorang. Secara umum kaum muslimin memiliki pokok keimanan yang mengesahkan keislamannya, yaitu yang disebutkan di dalam hadits, ”Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.” [H.R. Muslim]
Adapun keimanan yang bersifat terperinci, tidak dimiliki kebanyakan manusia. Karena, untuk mencapai taraf keimanan yang seperti ini membutuhkan kesungguh-sungguhan dalam mempelajari Islam secara terperinci dan dia akan mendapati kesusahan dan berbagai cobaan di dalamnya. Iman yang terperinci mencakup keimanan terhadap seluruh yang datang dari Rasulullah ` dengan pengetahuan, pengakuan, serta kecintaan, sekaligus mengetahui, membenci dan menjauhi lawan dari iman tersebut.
Kewajiban orang yang beriman adalah mewujudkan konsekuensi keimanan tersebut, dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan seluruh larangan Allah dan rasul-Nya. Secara tabiat manusia hal ini akan bertentangan dengan keinginan diri dan kesenangannya, tentu ia akan merasa susah dan berat untuk melaksanakan apa yang tidak disukai oleh jiwanya. Kecuali, ada faktor pendorong dalam melaksanakan semua beban tersebut.
Sebenarnya iman memiliki rasa manis, sehingga tatkala seseorang mendapatkannya ia akan senang dan cinta kepada iman tersebut. Tengoklah banyak kisah dari para Rasul dan Nabi serta para pengikut mereka, bagaimana mereka dengan gigih dan kokoh mempertahankan agama, memperjuangkannya dan tidak gentar terhadap lawan-lawan mereka yang begitu ganas dan keras perlawanannya. Tentulah mereka melaksanakannya tidak dengan rasa benci atau terpaksa tetapi karena keimanan dan rasa manisnya iman tersebut. Mereka menikmati segala kesusahan dalam perjuangan demi cinta mereka kepada Allah.
Dari hadits di atas kita bisa mengetahui bahwa untuk mendapatkan manisnya iman, seorang dapat melakukan tiga perkara:
1. Allah serta Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. Keduanya lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang riwayat dari Umar bin Al-Khaththab z, bahwa beliau berkata, “Wahai Rasulullah sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku.” Maka Rasulullah bersabda, ”Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, (tidak benar) sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri”. Umar berkata, “Sekarang wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasulullah bersabda, “Sekarang (baru benar) wahai Umar.” [H.R. Al-Bukhari].
2. Mencintai seseorang karena Allah. Seorang yang mencintai Allah tentu akan mencintai apa yang Allah cintai. Ketika Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang shalih maka kita pun harus mencintai mereka. Meskipun kita tidak bisa memastikan seseorang shalih di sisi Allah atau tidak, Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut, namun kita bisa menilainya dari lahiriahnya yaitu pengamalan syariat yang dilakukannya. Tatkala ia senang mengamalkan amalan shalih dan meninggalkan keharaman maka ketika itulah kita mencintainya.
3. Benci kembali kepada kekafiran. Kekafiran adalah lawan dari keimanan. Seseorang akan mendapatkan manisnya keimanan tatkala terkumpul padanya kecintaan terhadap perkara-perkara keimanan dan kebencian atas perkara-perkara yang menggugurkannya. Allahu a’lam. (Hammam)
(Referensi: Al-Fawa`id, karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah)